
Menakar lawatan Wakil Bupati Kapuas Dodo ke Mentangai Hilir, Senin (17/3/2025). Ternyata, Safari Ramadan Pemerintah Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah bukan sekedar basa basi. Di bulan yang suci ini adalah momentum menanam, menumbuhkan maupun memperkuat silaturahmi.
Waktu yang pas bagi pasangan Wiyatno – Dodo pemenang Pilkada 2024 lalu melakukan pendekatan emosional dengan masyarakat : menyeragamkan perspektif demi menyukseskan visi-misi pembangunan, Kapuas Bersinar (bedaya saing, sejahtera, indah, aman dan religius). Hilirnya: ingin ada gerakan kolektif untuk kemajuan bersama.
Oleh, Muhammad Fauzi Fadilah
Dari Kuala Kapuas, Ibukota Kabupaten Kapuas. Berangkat menggunakan mobil, tak kurang dari 3 jam menuju Masjid Nurul Hikmah di Desa Mentangai Hilir, Kecamatan Mentangai di hulu Sungai Kapuas.
Bukan hal yang mudah, namun tak begitu sulit juga melewati medan menuju tempat tujuan itu. Sebagian jalan, di tengah perjalanan, kondisinya cukup mengguncang perut. Oleh karena dihadang lobang dan jalan bergelombang. Pokoknya, jalan itu jauh dari kata layak sebagai fasilitas umum.
Barang kali sama. Dodo mungkin saja turut mencicipi hidangan atas pembangunan pemerintah yang sudah usang itu.
Seiring waktu. Sekitar pukul 17:00 WIB rombongan pemerintah dipimpin Wakil Bupati Kapuas Dodo akhirnya tiba di tempat ibadah umat muslim di desa yang berdekatan dengan sungai Kapuas itu.
Saat jingga senja warnai pemandangan di ufuk timur, diiringi suara maulid habsy bertepatan dengan kedatangan Dodo beserta istri. Mereka disambut hangat oleh warga kampung, diantar panitia pelaksana menuju tempat duduk masing-masing : bersila di lantai masjid, berbaur dengan yang lain.

Tak kurang dari 100 orang di dalam mesjid bernama Nurul Hikmah (Cahaya Kebijaksanaan) ini. Lengkap, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua duduk rapi di dalam masjid yang tampak lusuh dilihat dari luar itu, catnya banyak terkelupas.
Ada seorang sayyid bermarga Al-Katari yang merupakan putra daerah kelahiran Mentangai berguru di Martapura, Kalimantan Selatan yang jadi penceramah. Lalu, Ketua Dewan Adat Dayak hingga pemerintah desa setempat ada duduk bersama Dodo dalam acara Kunjungan Kerja sekaligus Safari Ramadan ini.
Dua anak kecil, diiringi seorang sepuh terlihat berjalan kecil membagikan hidangan dalam kotak kepada tamu – tamu undangan penting di depan.

Sekitar satu jam sebelum berbuka puasa, acara inti pun dimulai. Pembawa acara mempersilahkan Camat Mantangai Yubderi sebagai pembuka sambutan.
Intinya saja. Yubderi memberikan sambutan hangat dengan pernyataan bercorak dukungan terhadap pemimpin baru Kabupaten Kapuas.
“Pemerintah hari ini membawa tema besar. Yakni Kabupaten Kapuas Bersinar. Semua program ini bisa masyarakat Mentangai implementasikan, untuk menyukseskan program Wiyatno – Dodo,” ujarnya.
“Tak ada alasan tak mendukung kepemimpinan yang telah diberikan amanah oleh masyarakat,” timpalnya.
Menyusul Yubderi, tibalah sambutan yang ditunggu-tunggu masyarakat.
Dodo langsung berdiri setelah diberikan ruang dan waktu oleh panitia pelaksana untuk menyampaikan ‘sepatah dua patah kata’ di hadapan masyarakat.
Tanpa teks. Di awal sambutan Dodo langsung menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat Mentangai, mengingat di Desa Mentangai Hilir ini adalah tanah kelahiran sang kekasih yakni; Nyoya Hertitati Dodo.
“Lima tahun ke belakang ini saya akan sering berkunjung ke Mentangai,” ucapnya disambut riuh tepuk tangan.
Meskipun demikian bukan berarti pemerintah hari ini tak melirik daerah kecamatan lain. Tegas Dodo menyampaikan akan bersikap adil sesuai urgensi masing-masing. Terkait Safari Ramadan, untuk daerah lain ia berjanji akan menggilir pada tahun – tahun yang akan datang.
Di Desa Mentangai Hilir ini, hal penting disampaikan Dodo. Pemerintah hari ini sudah mencanangkan program pembangunan yang bakal mengkoneksikan sosial ekonomi wilayah di daerah hulu ini; Mentangai, Pasak Talawang hingga Pojun.
“Akan kita bangun secara bertahap infrastruktur dasar, namun secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah,” ungkapnya, lagi disambung dengan tepuk tangan dukungan dari masyarakat.
Pemerintah Wiyatno – Dodo sadar urgensi masyarakat di sejumlah daerah tersebut yang masih minim terjangkau pembangunan.
Selanjutnya, Dodo menitipkan fundamental pluralisme yang sudah kokoh untuk dijaga bersama. Hal demikian mengingat kemajemukan di daerah Kabupaten Kapuas; suku, sosial budaya hingga agama.
Sejurus kemudian, ini yang paling melekat di kepala penulis. Dodo menunjukkan watak merangkul melalui narasi kebersamaan membangun Kabupaten Kapuas.
“Kita ingin merajut silaturahmi, agar terjalin hubungan yang kokoh antara pemerintah dengan masyarakat. Kami ingin merangkul semua, untuk bersama-sama membangun Kabupaten Kapuas,” ujarnya.
Dodo sadar Kabupaten Kapuas adalah daerah yang besar, maka perlu banyak entitas untuk bersama bergerak maju. Artinya, tak ada lagi klasifikasi golongan pascapilkada.
Terkhusus, melalui program yang saat ini diusung pemerintah daerah yakni Kapuas Bersinar. Dikatakan Dodo, perlu dukungan semua pihak.
“Kita ingin semua bergandengan tangan, memajukan Kabupaten Kapuas, Bersinar,” ujar pasangan Bupati Kapuas Wiyatno ini.
Selebihnya, Dodo menyatakan pemerintah hari ini tak akan bersikap anti kritik. Segala kritik, masukan atau saran siap ditampung oleh kepemimpinan Wiyatno – Dodo.
Wiyatno – Dodo mungkin saja sepenuhnya sadar di negara demokrasi ini keterlibatan masyarakat peranannya sangat penting agar visi-misi Bersinar berproses sehat.
“Kami sangat terbuka dengan kritik. Kritik yang berkontribusi untuk kemajuan dan membangun,” pungkasnya.
Dodo mengatakan pintu rumah jabatan (rujab) terbuka lebar sebagai ruang temu bagi masyarakat yang ingin menyampaikan sikap, kritik ataupun saran.
“Rumah jabatan sangat terbuka,” ujarnya mantan Camat Pasak Talawang ini.

Singkat cerita, sambutan Dodo berakhir. Tepuk tangan dari masyarakat menggiring. Selang waktu ini ia sempat menyerahkan bantuan untuk menunjang kegiatan keagamaan di mesjid itu.
Usai tausiyah, waktu berbuka puasa pun tiba.
Dodo beserta istri yang merupakan umat nasrani pamit bergeser dari mesjid saat masyarakat menunaikan ibadah sholat Magrib.
Dodo beserta istri diundang makan bersama di salah satu rumah warga yang berjarak selemparan batu dari mesjid. Di sini mereka bercengkrama cukup khidmat dengan masyarakat. Dodo dan istri tak memasang batas bagi warga, cukup merakyat, bahkan sempat diajak foto bersama.

Selepas waktu Isya. Dodo pamit. Kembali ke ibukota Kabupaten Kapuas untuk bertugas. Dalam perjalanan pulang penulis kira ia pasti kembali mencicipi medan jalan rusak yang mengguncang perut itu.